In Sharing

Sharing

jjajja

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Kumpulan PPT

Kumpulan PPT

hahhaha

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Makalah Studi Tokoh Pendidikan Islam

Makalah Studi Tokoh Pendidikan Islam K.H. Hasyim Asy'ari



PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
KH. HASYIM ASY’ARI

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah  : Studi Tokoh Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Mochamad Iskarim, S.Pd.I, M.S.I.
Oleh :
Kelompok 6
            1.      Ririn Kartinaningsih            (2021114029)
            2.      Agustinawati                          (2021114259)
            3.      Ayu Nur Amanah                  (2021114271)
            4.      Siti Nur Luluk Samarra       (2021115236)
            5.      Ahmad Ghozali                     (2021115341)

Kelas E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IAIN PEKALONGAN
2017



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Berbicara soal pendidikan di Indonesia, perlu melihat sejarah pendidikan di Indonesia sendiri, sejak awal adanya kegiatan kependidikan hingga pada masa untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan. Orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, maka tentu tidak terlepas dari pola pandangan mereka dalam bidang tersebut. Kaitannya, demi mengembangkan dan memajukan kualitas maupun orientasi pendidikan di Indonesia, kita juga perlu memiliki prinsip dalam mengelola sub-sub sistem pendidikan di dalamnya. Walau bagaimanapun, prinsip tersebut tidak serta merta sepenuhnya muncul dalam pandangan seseorang saja, akan tetapi kita perlu mengumpulkan, memandang, dan menganalisis beberapa pandangan para tokoh pendidikan, agar tercapai atau mendekati kesempurnaan.

Banyak pemikiran para tokoh pendidikan di dunia, bahkan dari Indonesia sendiri, yang menjadi acuan bagi para praktisi pendidikan di Indonesia, baik pendidikan di bidang umum maupun agama, khususnya agama Islam. Salah satu dari beberapa tokoh agama Islam yang terkemuka di Indonesia ialah K.H. Hasyim Asy’ari, yang mana pemikirannya tentang pendidikan menjadi pandangan banyak pendidik di Indonesia.
1
Kyai Hasyim sendiri juga seorang pendidik profesional yang terkenal dengan ilmunya, kharismanya, dan lembaga pendidikan Islam yang didirikannya, Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. Dari pemikirannya yang tertulis dalam kitab karangannya berjudul “Adab al-Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaj Ila al-Muta’alim fi Ahuwal Ta’allum wa ma Yataqaff al-Mu’allim fi Maqamat Ta’limi”, berisi tentang konsep pendidikan yang banyak ditekankan pada etika dalam pendidikan. Ini sekaligus menjadi nasihat dari beliau kepada orang-orang yang berhubungan dengan pendidikan.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang biografi, setting sosial, karya-karya beliau, kemudian bagaimana Pemikiran pendidika oleh beliau, lalu Analisa pemikiran tentang pendidikan oleh beliau dan yang terakhir relevansi pemikiran beliau dengan pendidikan sekarang.

B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimana Biografi tokoh K.H. Hasyim Asy’ari?
2.         Bagaimana Setting Sosial tokoh K.H. Hasyim Asy’ari?
3.         Apa saja Karya K.H Hasyim Asy’ari?
4.         Bagaimana Pemikiran tentang Pendidikan K.H.Hasyim Asy’ari?
5.         Bagaimana Analisa pemikiran tentang pendidikan dari tokoh K.H.Hasyim Asy’ari?
6.         Bagaimana Relevansi Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dengan Pendidikan Sekarang

C.      Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/ metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lalinnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan masalah tujuan dan sasaran perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.      Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan makalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah, Bab II, adalah pembahasan, Bab III, bagian penutup yaitu simpulan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Biografi K.H. Hasyim Asy’ari
Hasyim Asy’ari lahir di desa Nggedang sekitar dua kilometer sebelah Timur Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pada hari Selasa kliwon, tanggal 24 Dzulhijjah 1287 atau bertepatan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim ibn Asy’ari ibn Abd. Al Wahid ibn Abd. Al Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bona ibn Abd. Al Rahman Ibn Abd. Al Aziz Abd. Al Fatah ibn Maulana Ushak dari Raden Ain al Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri.[1] sedangkan ayahnya bernama Asy’ari dan ibunya bernama Halimah. Dipercayai bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim Jawa, Jaka Tingkir, dan raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI, juga dipercayai merupakan keturunan bangsawan.
Ayah beliau adalah seorang kyai pendiri Pesantren Keras di Jombang, sementara kakeknya, kyai Utsman adalah kyai terkenal pendiri Pesantren Gedang, sementara moyangnya, kyai Sihah adalah pendiri Pesantren Tambakberas Jombang. Sahingga wajar saja apabila K.H. Hasyim Asy’ari menyerap lingkungan agama dari lingkungan pesantren keluarganya dan mendapatkan ilmu pengetahuan agama Islam yang luas.[2]
3
Pada usia muda Hasyim Asy’ari mulai melakukan pengembaraan ke berbagai pesantren di luar daerah Jombang. Pada awalnya, ia menjadi santri di pesantren Wonokojo di Probolinggo, kemudian berpindah ke pesantren Langitan, Tuban. Dari Langitan santri yang cerdas tersebut berpindah lagi ke pesantren Trenggilis, hingga pesantren Kademangan Bangkalan, di Madura sebuah pesantren yang diasuh kyai Khalil. Terakhir sebelum belajar ke Mekkah, ia sempat nyantri dan tinggal lama di pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, di bawah asuhan kiai Ya’qub, sampai akhirnya diambil menantu oleh kiai Ya’qub, dinikahkan dengan anaknya yang bernama Khadijah tahun 1892.
K.H. Hasyim Asy’ari juga merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, bersama K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri, yang didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344, bertepatan tanggal 31 Januari 1926. Organisasi NU bermaksud untuk mempertahankan praktik keagamaan yang sudah mentradisi di Nusantara untuk mengimabangi gencarnya ekspansi pembaruan Islam. NU sendiri memberikan perhatian besar bagi pendidikan, khususnya pendidikan tradisional yang harus dipertahankan keberadaannya. Kemudian NU mendirikan madrasah-madarasah dengan model Barat.
Dalam hidupnya, beliau juga ikut berperan penting dalam bidang politik nasional. Di samping itu, beliau menjadi salah satu motivator para pejuang bangsa Indonesia dalam mengusir pendudukan kolonial di tanah air, untuk meraih kemerdekaan. Akhir hayatnya, K.H. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H, bertepatan tanggal 25 Juli 1947, disebabkan tekanan darah tinggi.[3]

B.       Setting Sosial K.H. Hasyim Asy’ari
Pendidikan pesantren mengalami kemajuan yang pesat sampai dengan akhir perang Diponegoro (1785-1855). Setelah itu, pendidikan Islam, meski secara kuantitas naik tapi secara kualitas mengalami kemunduran. Menurunnya kualitas itu antara lain karena pesantren selama masa perang dianggap sebagai kubu perang gerilya. Posisis ini terang sangat membahayakan pemerintah penjajah Belanda. Keadaan ini semakin diperparah ketika pada 1888 terjadi pemberontakan para kyai dan petani di Cilegon yang dipimpin oleh Kyai Wasir.[4]
Pemberontakan itu menjalar ke berbagai pelosok Jawa Barat. Sejak itu semua kegiatan pesantren diawasi oleh Belanda, bahkan penjajah melarang masuknya kitab-kitab agama tertentu dari luar negeri. Sejak itu pula penjajah menugaskan orientalis sejati, Snouck Hurgronye, untuk menyelidiki jemaah haji. Menurut Belanda, setiap pemberontakan berawal dari orang-orang yang naik haji dan pimpinan pesantren yang dianggap memiliki basis massa yang kuat. Berikutnya pada 1905 keluar ordonansi yang berisi ketentuan pengawasan terhadap perguruan yang hanya mengajarkan agama Islam.
Akibat itu semua terjadilah penurunan kualitas pesantren disamping karena minimnya literature juga karena renggangnya hubungan antar ulama pesantren. Kondisi seperti itu jelas tidak bias melahirkan kader-kader pemimpin dari pesantren yang berpandangan luas. Karena itu butuh pembaharuan, dalam kondisi seperti itulah muncul Kyai Hasyim Asy’ari lewat pesantrennya, Tebuireng. Hal lain yang perlu dicatat adalah, masa ketika Hasyim Asy’ari belajar di Makkah adalah masa dimana faham Wahabi mendapatkan tempatnya di hati penguasa Saudi Arabia, Raja Abdul Azis bin Saud. Penguasa ini tidak memberi kebebasan bagi pengikut madzab yang lain.
Ditengarai, bermukimnnya KH. Hasyim As’ari selama di Makkah telah menumbuhkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Interaksi sosial yang terjalin antar sesama pelajar dari Jawa khususnya dan daerah jajahan pada umumnya, talah membentuk kesadaran resistensi terhadap kolonialisme.[5] KH. Hasyim Asy’ari bukan iintelektual an sich yang bergumul dengan buku dan pesantren, sseperti tercermin dalam beberapa karyanya, tetapi memanfaatkan posisinya sebagai elit keagamaan dalam politik.  
 
C.      Karya K.H. Hasyim Asy’ari
Adapun karya-karya kiyai Hasyim Asy’ari yang berhasil didokumentasikan, terutama oleh cucunya, almarhum Isham Hadziq, adalah sebagai berikut:
1.         Al-Tibyan fi al-Nahly ’an Muqatha’at al-Arhamwa al-Aqaribwa al-Ikhwan
2.         Muqoddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyatNahdhatulUlama
3.         Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah
4.         Mawa’idz
5.         Arba’inaHaditsanTata’allaqu bi Mabadi’jam’iyyatNahdhotulUlama
6.         Al-Nur al-Mubin fi MahabbatiSayyid al-Mursalin.
7.         Al-Tanbihat al-WajibatLimanYashna al-Mawlid bi al-Munkarat
8.         RisalahAhl al-Sunnahwa al-Jama’ahfuHadits al-MawtawaSyuruth al-Sa’ahwaBayaniMafhum al-Sunnahwa al-Bid’ah
9.         ZiyadatTa’liqat ‘alaMandzumahSyaikh ’Ab-dullah bin Yasin al-Fasuruani
10.     Dhaw’ilMisbah fi Bayan Ahkam al-Nikah
11.     Al-Dzurrah al-Muntasyirah fi MasailTis’aAsyarah
12.     Al-Risalah fi al-Aqaid
13.     Al-Risalah fi al-Tasawuf
14.     Adab al-’Alimwa al-Muta’allim fi ma YahtajuIlayh al-Muta’allim fi AhwalTa’limihiwa ma Yatawaqqafu ’alayhi al-Mu’allim fi MaqamatiTa’limihi.[6]

D.      Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari tentang Pendidikan
Salah satu karya manumental K.H. Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab Adab al-Alim wa al mutaallim fima yahtajIla al Muta’allim fi ahuwal Ta’allum wa ma yaaqaff al-Mu’allim fi maqamat ta’liimi, yang di cetak pertama kali pada 1415 H.KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab ini didasari oleh kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula. Dengan demikian, literatur yang menyajukan etika-etika belajar merupakan keniscayaan.
Kitab ini secara keseluruhan terdiri atas 8 bab yang masing-masing membahas tentang keutamaan ilmu dan ilmuwan serta pembelajaran, etika yang mesti dicamkan dalam belajar, etika seorang murid terhadap guru, etika murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomi bersama guru, etika yang harus diperhatikan bagi guru, etika guru ketika akan mengajar, etika guru terhadap murid-muridnya,etika membangun literatur dan alat-alat yang digunakan dalam belajar. Kedelapan bab tersebut sesungguhnya dapat diklarifikasikan menjadi 3 bagian penting yakni signifikasi pendidikan, tanggung jawab, dan tugas murid, serta tanggung dan tugas guru.
Tema-tema tersebut merupakan hasil berbagai pertimbangan yang dilakukan kiai Hasyim secara cermat dan hasil shalat istikharah. Namun demikian, tidak menafikan beberapa aspek pendidikan yang lain.[7]
1.         Tujuan Pendidikan
Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, pertama bagi murid, hendaknya ia berniat suci menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekan. Kedua, bagi guru, dalam mengajarkan ilmu hendaknya ia meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata-mata.
K.H. Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Dalam hal belajar, yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya, belajar harus diniati untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan sekadar menghilangkan kebodohan.
2.         Signifikansi Pendidikan
Dalam membahas masalah ini, ia banyak mengutip ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan ilmuwan. Tidak cukup hanya ayat-ayat Al quran , pembahasan dalam bab pertama tersebut dilengkapai dengan berbagai hadist Nabi dan pendapat para ulama , yang kemudian diulas dan dijelaskan dengan singkat dan jelas, ia misalnya menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya.
Terdapat dua hal yang harus dioerhatikan dalam menuntut ilmu. Pertama, bagi murid, hendaknya ia berniat suci menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk duniawi dan jangan melecehkan atu menyepelekannya. Kedua, bagi guru , dalam mengajarkannya ilmunya hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata-mata. Pada pengertiannya bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah SWT yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
3.         Tugas Tanggung jawab seorang Murid
a.         Etika yang harus diperhatikan dalam belajar
Dalam hal ini, ada sepuluh etika di tawarkan beliau sebagai berikut:Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian, Membersihkan niat, Tidak menunda-nunda keesempatan belajar, Bersabar dan qqanaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan, Pandai mengatur waktu, dan lain-lain.
b.        Etika murid terhadap guru
Dalam membahas masalah ini, beliau menawarkan dua belas etika sebagai berikut: Hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang dikatakan atau dijelaskan oleh guru, Memilih guru yang wara’ (hati-hati) disamping profesional, Mengikuti jejak-jejak guru dan lain-lain.
c.         Etika murid terhadap pelajaran
Murid hendaknya memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu‘ain untuk dipelajari, Murid harus mempelajari ilmu-ilmu yang mendudkung ilmu fardhu ‘ain, dan lainnya
4.         Tugas dan Tanggung jawab seorang Guru
a.         Etika yang harus di pedomani guru
K.H. Hasyim Asy’ari menawarkan beberapa etika yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut: senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT , tidak menggunakan ilmunya untuk meraih keduniwian, dan sebagainya.
b.        Etika guru ketika dan akan mengajar
     Dalam hal ini, K.H. Hasyim Asy’ari menawarkan gagasan tentang etika guru ketika mengajar sebagai berikut :Mensucikan diri dari hadas dan kotoran, berpakaian yang sopan dan rapi serta usahakan berbau wangi, berniatlah ibadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik, sampaikanlah hal-hal yang di ajarkan oleh Allah. Apa yang di tawarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari di atas bersifat pragmatis. Artinya , apa yang di tawarkan berangkat dari praktik yang selama ini di alaminya. Kehidupannya yang diabdikan untuk ilmu dan agama telah memperkaya pengalamannya dalam mengajar.
c.         Etika guru terhadap murid-muridnya
                 Berniat mendidik dan menyebarkan Ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at Islam; menghindari ketidakikhlasan dan mengejar keduniawian; hendaknya melakukan introspeksi diri; dll.
d.        Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya
Untuk mengawali suatu proses belajar maupun etika yang harus diterapkan terhadap kitab atau buku yang dijadikan sebagai sumber rujukan menjadi catatan tersendiri, sebab hal ini tidak di jumpai pada etika-etika belajar pada umumnya. Menurut Lathifathul Khuluq, kesuksesan K.H.hasyim asy’ari dalam membangun dan mendidik para murid di pesantrennya disebabkan paling tidak tujuh faktor; pertama: metode pengajarannya sangatlah menarik disebabkan kedalaman ilmunya dan pengalamannya dalam mengajar , khususnya karena ia telah mulai mengajar sejak usia muda. Kedua, K.H.Hasyim Asy’ari memberi perhatian yang lebih kepada siswa-siswi yang mempunyai kemampuan dan bakat khusus yang diperkirakan akan dapat menjadi ulama besar pada masa mendatang. Ketiga, pengetahuan non agama juga di ajarkan di pesantren Tebu Ireng di samping pengetahuan agama. Keempat, K.H.Hasyim Asy’ari juga mengajarkan para santrinya dengan kemampuan khusus dalam bidang managemen dan organisasi. Kelima, selama hidup K.H. Hasyim Asy’ari , pesantren Tebu Ireng menjadi pusat pendidikan tinggi. Keenam, K.H. Hasyim Asy’ari memberi kesempatan bagi putra putri nya dan keluarga dekat lain untuk melanjutkan pelajran agama mereka ke pesantren- pesantren , dan bahkan ada yang melanjutkan ke Hijaz untuk mempersiapkan mereka melanjutkan tongkat kepemimpinan Tebu Ireng. Ketujuh, dudkungan dan rasa hormat dari banyak kiai di Jawa membantu K.H. Hasyim Asy’ari meningkatkan perkembangan pesantrennya.[8]

E.       Analisis Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari
Pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asyari terpusat pada etika dalam mencari ilmu pengetahuan dengan ditulisnya kitab Adab al-Alim wa al-Muta’alim yang selesai pada tanggal 22 Jumadil al-Tsani 1343 H, secara keseluruhan bab yang masing-masing membahas tentang keutamaan ilmu, etika yang mesti dicamkan dalam belajar, etika seorang murid terhadap guru, etika yang harus diperhatikan guru, etika guru terhadap terhadap murid-muridnya dan etika menggunakan literatur dan alat-alat yang digunakan dalam belajar. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang mencarinya harus memperhatikan etika-etika yang luhur pula. Dengan demikian literatur yang menyajikan etika-etika belajar merupakan keniscayaan[9]
Catatan yang menarik dan perlu dikedepankan dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah etika atau statement dimana guru harus membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas, yang pada masanya jarang sekali dijumpai. Dan hal ini beliau buktikan dengan banyaknya kitab hasil karangan atau tulisan beliau.
Betapa majunya pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dibanding tokoh-tokoh lain pada zamannya. Dan pemikiran ini ditumbuh serta diangkat kembali oleh pemikir pendidik zaman sekarang ini, yaitu Harun Nasution, yang mengatakan hendaknya para dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam khususnya agar membiasakan diri untuk menulis.

F.       Relevansi Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dengan Pendidikan Saat Ini
Relevansi pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan sekarang nampak pada munculnya berbagai lembaga yang dinaungi panji-panji Islam atau lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren. Pesantren sampai sekarang masih menjadi satu-satunya lembaga yang diharapkan mampu melahirkan sosok ulama yang berkualitas, dalam arti mendalam pengetahuan agamanya, agung moralitasnya dan besar dedikasi sosialnya.
Konsep pendidikan oleh K.H. Hasyim tidak hanya berupa teori dan pemikirannya saja, akan tetapi beliau juga mempraktikkannya langsung dalam aktivitas kependidikannya. Walaupun pemikiran beliau masih bercorak tradisionalis, tetapi pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari tetap sesuai dan tepat jika diterapkan dalam pendidikan Islam saat ini, terutama dalam beberapa aspek antara lain yaitu dalam hal tujuan pendidikan, materi dan dasar yang digunakan yaitu Al-Qu’an dan Al-Hadits.
Pemikiran Kyai Hasyim tentang pemaduan antara pesantren yang tradisionalis dengan model sekolah barat yang lebih moderenis, sebelumnya banyak dikhawatirkan oleh banyak kyai lain. Namun, beliau konsisten dengan pemikiran yang telah dipertimbangkannya, sebagaimana slogan NU sebagai berikut:
اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْاَخَذُ بِالْجَدِيْدِ الْاَصْلَحِ
“tetap memelihara hal-hal yang lama yang baik dan mengambil hal-hal yang baru yang lebih baik.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa Kyai Hasyim merupakan tokoh yang berusaha memelihara tradisi turun temurun dari pondok pesantren, juga mengembangkan pendidikan keilmuan di pondok pesantren. Hingga sekarang, pendidikan Islam berkembang dari model pesantren tradisional, pesantren moderen, madrasah dan sekolah Islam.
1.         Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut K.H. Hasyim Asy’ari adalah mengamalkan ilmu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kyai Hasyim juga menyebutkan dalam hal belajar, bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya, belajar harus diniati untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan sekadar menghilangkan kebodohan.
Pola pikir Kyai Hasyim yang pragmatis, memadukan antara pendidikan tradisionalis, yang menekankan pada pendidikan keagamaan, dengan pendidikan modernis, yang berisi pendidikan umum atau non-keagamaan. Hal tersebut bertujuan mencetak lulusan siswa menjadi seorang ulama yang intelektual, dan intelek yang islami.



2.         Konsep Pendidik
Seorang pendidik yang dipraktikkan oleh Kyai Hasyim sendiri adalah bahwa mereka harus memiliki ilmu yang mumpuni, memiliki kewibawaan dan keteladanan, tekun, ulet, bertekad menyebarluaskan ilmu kebenaran demi kebaikan, ikut berbaur dengan lingkungan masyarakat sekitar dan sesama pendidik, selalu berusaha untuk mengimbangi antara memelihara tradisi dan tuntutan kemajuan zaman, dan senantiasa mencintai anak didiknya dengan memberi motivasi, inspirasi dan memeliharanya.
Sedangkan yang dijelaskan oleh beliau dalam kitabnya ialah sebagaimana yang disebutkan di atas, bahwa pertama, guru harus memiliki kompetensi personal dengan etika yang harus dipedomani oleh pribadi seorang pendidik. Kedua, memiliki kompetensi pedagogik dan profesional dengan etika guru dalam mengajar. Ketiga, memiliki kompetensi sosial dengan etika ketika bersama peserta didiknya.
Dalam mengajar, seorang guru harus memiliki niat yang lurus dan ikhlas dalam mengajar, tidak mengharapkan meteri semata. Ikhlas di sini adalah bahwa seorang pendidik harus bekerja dengan profesional, yaitu ahli sesuai dengan bidangnya. Guru harus tegas dan jelas dalam menyampaikan ilmu, tidak menjadikan bingung dan ragu peserta didiknya, sehingga dapat memahamkan ilmu bagi mereka.
3.         Konsep Peserta Didik
Sebagai peserta pendidik, juga memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap guru, pelajaran, dan dalam belajarnya. Sama halnya dengan pendidik, peserta didik juga harus memiliki etika di dalamnya. Dalam menuntut ilmu peserta didik hendaknya berniat suci menuntut ilmu pengetahuan untuk mengamalkannya, mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan sekadar menghilangkan kebodohan, demi mencari ridha Allah yang mengantarkan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekan ilmu dan gurunya.
4.         Kurikulum Pendidikan
­­­­­­­­­­­­­­­­­Pada awal mulanya, mata pelajaran yang di ajarkan oleh Kyai Hasyim adalah menekankan pada syariat Islam atau ilmu pengetahuan dasar keagamaan Islam, yaitu tauhid, fiqih dan tafsir. Sedangkan ilmu bahasa yang dipelajari adalah bahasa Arab, dan tulis menulis Arab. Setelah berkembangnya tuntutan zaman, kurikulum yang sebelumnya ditambahkan pelajaran Qur’an dan Hadits, dan bahasa Indonesia dan Melayu, serta bahasa asing Belanda.
Seiring berkembangnya model pesantren tradisional yang dipadukan dengan model sekolah moderen, mata pelajaran pun ditambah dengan mempelajari baca tulis dengan tulisan latin, ilmu hitung, ilmu geografi, ilmu sosial.
5.         Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan
Pada dasarnya tradisionalisme pendidikan Kyai Hasyim Asy’ari mengindikasikan bahwa aplikasi pendidikan berkaitan dengan model dalam pembelajaran, lebih berpusat pada subject matter oriented dengan posisi sentral pada keberadaan seorang guru sebagai subjek yang menentukan dalam proses belajar mengajar, atau disebut teacher centre learning (pengajaran berpusat pada guru). Dalam hal ini, sesungguhnya konsep dan aktualisasi pendidikan Kyai Hasyim Asy’ari lebih dekat kepada kerangka esensialisme (lebih menitikberatkan pada materi) dari pada progresifisme (lebih menitikberatkan pada aspek intelektual atau kecerdasan). Selain itu, pembelajaran pendidikan di pesantren juga menggunakan pendekatan kontekstual dan pembiasaan.
Dalam kegiatan belajar mengajar, Kyai Hasyim menggunakan beberapa metode antara lain dengan cara halaqah, mubahatsah, sorogan, bandongan, dan muthalaah, yang identik dengan metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab, diskusi dan dialog. Dalam mata pelajaran bahasa Arab, terutama dalam belajar shorof, menggunakan metode hafalan.

6.         Evaluasi Pendidikan
Mengenai evaluasi, menurut pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari memang dalam proses evaluasi tidak menggunakan standarisasi nilai, namun jika diteliti sistem pendidikan islam  sebenarnya proses itu sudah menilai dari segala aspek yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pemikiran beliau lebih menitikberatkan pada persoalan hati (qolb) sehingga yang menjadi hal terpenting atau modal dalam menuntut ilmu adalah niat yang tulus dan ikhlas dan mengaharapkan ridha Allah SWT. Selain itu beliau juga sangat menekankan penanaman akhlak dan moral terhadap siswa. Jika dikaitkan dengan pendidikan sekarang maka pemikiraan K.H. Hasyim Asy’ari berhubungan erat dengan aspek afektif siswa. pada dasarnya pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari mengenai tujuan atau pun dasar yang digunakan adalah sangat tepat bahkan sangat sesuai karena menggunakan dasar Al-Qur’an dan Al-Hadits. Karena dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits terwujud suatu sistem pendidikan yang komprehensif yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
              
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
KH. Hasyim Asy’ari dilahirkan pada selasa kliwon 24 Zulqa’dah 1284 atau 14 Februari 1871 di desa gedang, jombang jawa timur. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 pukul 03.45 dini hari bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.
Konsep Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari terdapat dalam buku Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihiyangterdiri dari 8 bab.Dan berisi tujuan dari pendidikan yaitu untuk mewujudkan masyarakat beretika, titik tekan pada moralitas itu tampak mendominasi di berbagai tempat dalam karyanya.
Dalam konsep Di bidang teologi, Kiai Hasyim punya pandangan, bahwa islam tidak hanya membimbing manusia hanya untuk menyembah satuTuhan, tapi ia merupakan agama yang memajukan aspek-aspek sosial ekonomi masyarakat Islam. Sedang di bidang tasawuf, Kiai Hasyim punya pemikiran yang cukup rasional. Menurutnya, untuk menjadi seorang sufi, ada persyaratan yang cukup ketat.

B.       Saran
Dengan mengetahui konsep pendidikan yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari, guru dapat menyampaikan materi dengan baik dan benar serta dengan etika yang sesuai bagi seorang guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.Konsep Pendidikan yang ditawarkan KH. Hasyim Asyari telah memberikan petunjuk bagi seorang guru dan murid.  bukunya dapat dijadikan pedoman siswa dengan beretika baik layaknya seorang murid dalam menuntut ilmu Allah sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

 
DAFTAR PUSTAKA

al-Abrazi, Athiyah. 1974. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan. Jakarta: Bulan Bintang.
Khuluq, Lathiful. 2000. Fajar Kebangkitan Ulama;Biografi K.H. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: LkiS.
Kurniawan, Syamsul dan Erwin Mahrus. 2011. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta:Ar Ruzz Media.
Mansur, M Laily Mansur. 1996. Ajaran dan Teladan Para Sufi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Masyhuri, A. Aziz. 2008.99 Kiai Kharismatik Indonesia.Yogyakarta: Kutub.
Misrawi, Zuhairi. 2010. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Mohammad, Herry  dkk.2006. Tokoh- Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani.
Najib, Muhammad Ainun. 2007. Islam sebagai etika politik, perspektif KH. HAsyim Asy’ari. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Ridwan, Nur Khalik. 2010. NU dan Bangsa Pergulatan Poloitik dan Kekuasaan. Jakarta: Ar-Ruzz Media.



[1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002,) hlm, 152.
[2]Lathiful Khuluq, Fajar Kebangkitan Ulama;Biografi K.H. Hasyim Asy’ari (Yogyakarta: LKiS, 2000), hlm. 14-15.
[3] Ibid., hlm. 17-18
[4] KH. Azis Masyhuri, 99 Kyai Kharismatik Indonesia (Yogyakarta, Kutub, 2008), hlm. 282.

[5] Muhammad Ainun Najib, Islam sebagai etika politik, perspektif KH. HAsyim Asy’ari (Surabaya, Antologi Kajian Islam, IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2007), hlm. 263

[6]Zuhairi Misrawi, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, (Jakarta:PT. Kompas Media Nusantara, 2010), hlm. 96-99.
[7]Op. Cit., H. A. Aziz Masyhuri, hlm. 228-229.
[8]Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Ar Ruzz Media, 2011), hlm.211-224.
[9] Athiyah al-Abrazi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974),  hlm. 15.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog